
Presiden AS Donald Trump jelas mengalami masa-masa sulit. Namun, meski menerima serangan tak henti dari lawan dan ketidakberuntungan baru-baru ini, ia masih memiliki kekuatan yang besar. Raksasa media sosial belum lama ini memutuskan untuk menghapus akun Presiden Trump dalam upaya mencegah kekerasan lebih lanjut. Namun, keputusan ini menjadi bumerang. Harga saham Twitter turun drastis.
Menyusul kabar pemblokiran ini, saham Twitter langsung merosot 7,54% pada bursa New York Stock Exchange. Twitter masih belum berencana untuk membuka kembali akun Trump karena risiko penghasutan kekerasan lebih lanjut terhadap pemerintahan yang terpilih secara demokratis. Oleh karena itu, pemblokiran ini kemungkinan akan berlangsung setidaknya hingga Joe Biden disumpah sebagai presiden pada pekan depan.
Tentu saja, Trump menyangkal tuduhan tersebut dengan mengatakan bahwa ia tidak melihat seruan untuk rusuh dalam cuitannya. Namun, mayoritas warga percaya reaksinya terhadap serangan di Capitol jelas menunjukkan bahwa Trump mendukung sepenuhnya para pengunjuk rasa. Sebagai tambahan, Twitter menentang keras penolakan Trump untuk hadir dalam pelantikan Biden dengan alasan bahwa pemilihan tidak sah.
Trump dikenal akan kegemarannya menggunakan jejaring sosial sebagai corong pribadinya. Sepanjang masa kepresidenannya, ia aktif menggunakan akun pribadinya di Twitter dengan follower hampir 89 juta orang. Setelah akunnya diblokir, ia mencoba menerbitkan postingannya pada akun resmi Presiden Amerika Serikat, tapi jejaring sosial tersebut langsung menghapusnya.
Komentar: