
Tahun ini, ruble Rusia memiliki peluang besar untuk menambah nilai. Sejumlah bank global memperkirakan salah satu mata uang terlemah dalam bursa valuta asing ini dapat bergerak naik meski negaranya dijatuhi sanksi baru dari Barat.
Alasan utama untuk optimisme ini adalah sebagian besar faktor yang berpotensi menekan harga telah dimasukkan dalam perkiraan. Sebagai tambahan, ruble diperdagangkan di level yang sangat rendah. Ini berarti bahwa rebound tidak akan terelakkan.
Dengan demikian, Sergei Strigo, seorang manajer portofolio di Amundi Asset Management London, memiliki pandangan yang bullish pada ruble. Ia percaya bahwa mengingat harga minyak saat ini dan program vaksinasi, aset-aset Rusia memiliki potensi untuk menguat terhadap dolar AS. Strigo memperkirakan ruble akan diperdagangkan di bawah 70 per dolar pada 2021.
Seperti banyak negara lainnya, Rusia terpaksa menutup perbatasannya karena kekhawatiran virus corona. Hasilnya, pengeluaran pariwisata asing Rusia turun hampir $20 miliar pada 2020 menurut Bank Sentral Rusia. Ini dalam gilirannya memberikan dukungan tambahan terhadap mata uang nasional.
Menurut Kamakshya Trivedi, seorang analis mata uang di Goldman Sachs, nilai ruble yang undervalue tidak diragukan lagi mencerminkan risiko besar politik yang telah dipertimbangkan didalamnya. Itu berperan sebagai penyangga jika risiko politik tumbuh dalam Federasi Rusia.
Bagaimanapun, potensi sanksi dari negara-negara Barat masih menjadi ancaman terbesar terhadap mata uang Rusia. Karena tuduhan terbaru serangan peretasan dan kasus keracunan tokoh oposisi Rusia Alexei Navalny, Presiden AS Joe Biden mungkin akan mengambil sikap keras terhadap Rusia.
Komentar: