
Karena lambannya vaksinasi massal di negara-negara UE, otoritas UE bisa melarang ekspor vaksin AstraZeneca. Gelombang pandemi ketiga telah memperburuk masalah kekurangan vaksin.
Pada KTT virtual tanggal 25 Maret, sebanyak 27 pemimpin Uni Eropa menyatakan frustrasi karena kampanye vaksinasi yang lamban di Eropa telah tertinggal di belakang Inggris dan AS. Elemen vaksin AstraZeneca diproduksi di fasilitas di beberapa negara UE. Jadi, otoritas UE memutuskan untuk menghentikan ekspor produksi dari Anglo-Swedia ini sampai memberikan dosis yang sesuai berdasarkan kontrak pada konsumen UE.
Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, mendesak AstraZeneca untuk menghormati kontrak tersebut. Pemerintah bersikeras bahwa perusahaan harus memenuhi komitmennya kepada pembeli dari UE sebelum memulai ekspor vaksinnya.
Di akhir Juni, AstraZeneca hanya dapat memberikan 100 juta dosis dari 300 juta dosis yang ditetapkan dalam kontrak dengan UE. Para pemimpin Uni Eropa menyalahkan perusahaan farmasi tersebut atas keterlambatan vaksinasi massal. Sementara itu, baik AS dan Inggris melampaui UE dalam hal jumlah orang yang divaksinasi.
Karena peluncuran vaksin yang lambat di UE, Komisi Eropa mengumumkan rencana untuk memperketat kontrol atas ekspor vaksin AstraZeneca. Otoritas Uni Eropa siap membekukan ekspor ke negara-negara dengan cakupan vaksinasi massal yang lebih luas. Menariknya, para pemimpin Uni Eropa tidak setuju dalam sudut pandang larangan ekspor. Presiden Prancis, Emmanuel Macron, menganjurkan langkah-langkah ketat. Sebaliknya, Perdana Menteri Belanda, Mark Rutte, meminta rekan-rekannya untuk tidak memaksakan kontrol yang lebih ketat.
Para pemimpin UE berpikir bahwa vaksinasi massal di Eropa terganggu oleh ketegangan dengan Inggris karena London mengimpor 21 juta dosis yang diproduksi di Eropa. Pejabat Inggris meyakini bahwa London lebih efisien dalam mengatur rantai pasokan yang menciptakan ketentuan yang bagus untuk vaksinasi massal.
Sebagai tanggapan, Ursula von der Leyen mempresentasikan rincian tentang vaksin yang diproduksi di perusahaan UE. Berdasarkan laporan resmi, fasilitas Uni Eropa mengirimkan 77 juta dosis ke lebih dari 40 negara di seluruh dunia pada Desember 2020. Presiden Komisi Eropa membantah bahwa blokade ekspor dapat diberi label sebagai "fasisme vaksin". Menurut kebijakan vaksinasi UE, 70% orang dewasa Eropa diperkirakan menerima kedua suntikan vaksin virus Corona. Meskipun ada gelombang pandemi ketiga, tingkat kematian COVID-19 di UE menurun, kata Ursula von der Leyen.
Komentar: