Carsten Nickel, seorang Managing Director dengan Teneo, mengatakan pemilih di Jerman terperangkap dalam dilema. Mereka kesulitan memilih pemimpin baru Bundestag. Demokrat Sosial Olaf Scholz menang melawan rivalnya, pemimpin CDU Armin Laschet, dalam debat pemilihan umum di televisi pada 26 September. Kemenangan ini membuatnya selangkah lebih dekat menjadi penerus Kanselir Angela Merkel. Babak debat di TV ini gagal total bagi Armin Lascet. Ia mengacaukan peluang terakhirnya untuk menjadi pimpinan eksekutif Jerman yang baru. Laschet tampaknya tertinggal di belakang Olaf Scholz di setiap waktu. Sementara itu, banyak pemilih Jerman tidak dapat menerima kenyataan bahwa Frau Merkel tidak berpartisipasi dalam pemilihan. Para pakar menyebutnya sebagai efek Angela Merkel.
The Allensbach Institute menjalankan sebuah survei pada bulan September yang mengungkapkan bahwa sekitar 40% responden tidak mengetahui siapa untuk dipilih. Kebanyakan tidak memberikan dukungan pada kandidat manapun dan menyatakan kekecewaan karena tidak melihat Angela Merkel sebagai salah satu kandidat. Menurut para pemilih, Merkel membawa stabilitas bukan hanya ke Jerman tapi juga ke Eropa.
Selama 16 tahun masa jabatannya sebagai Kanselir, Angela Merkel memimpin ekonomi terbesar Eropa melalui krisis keuangan dan migrasi global. Kemampuan manajemennya yang kompeten membantu negara tersebut mengatasi imbas negatif pandemi COVID-19 sekaligus menjaga stabilitas di antara warga Jerman.
Baik Olaf Scholz dan Armin Laschet juga menjanjikan stabilitas. Namun, tidak satupun dipandang sebagai pemimpin yang kuat. Sejauh ini, kedua belah pihak telah memperoleh tidak lebih dari 20% suara. Berbicara mengenai partai hijau, partai itu membuat awal yang bagus tapi kemudian kehilangan semua prestasinya. Saat ini, partai itu menduduki posisi ketiga dalam rating.
Banyak pemilih Jerman telah memutuskan untuk mengirimkan suara mereka melalui pos. Namun, mereka belum menentukan pilihan dan belum mengirimkan kertas suara mereka sama sekali. Ketidakpastian seperti ini tidak baik bagi Alternative for Germany (AfD) ataupun lawannya. Menurut Allensbach Institute, 87% dari responden yang disurvei belum mengambil keputusan mengenai siapa untuk dipilih. Warga benar-benar tidak percaya pada pemimpin yang baru. Jadi, mereka kemungkinan memilih yang kekurangannya lebih sedikit di antara kedua kandidat.
Pemilih memiliki pandangan beragam mengenai AfD. Partai yang dibentuk pada tahun 2017 dan memperjuangkan anti-imigrasi ini baru memperoleh 10% suara. Untuk alasan itu, Scholz dapat meraih kemenangan.
Kehadiran Angela Merkel dalam pemilihan, meskipun ia tidak mencalonkan diri untuk masa jabatan kelima, penting bagi masyarakat. Pemilih Jerman khawatir mengenai siapa yang akan mengepalai Bundestag dan menentukan takdir negara. Pemilihan untuk penerus yang layak sekarang menjadi agenda utama di Jerman.
Komentar: