
Pandemi virus corona telah memukul setiap negara di dunia. Berbagai pembatasan dan lockdown yang berlangsung lama telah menimbulkan dampak serius yang masih sulit dihilangkan. Dengan latar belakang ini, prakiraan penurunan di negara terbesar zona euro terdengar masuk akal.
Ifo Institute, sebuah lembaga penelitian yang berbasis di Munich, merevisi turun prakiraan PDB Jerman untuk tahun 2021. Para analis memperkirakan bahwa tahun depan, laju pertumbuhan ekonomi dapat turun menjadi 2,5%, yang lebih rendah 0,8% dari prediksi sebelumnya. Pada tahun 2022, ekonomi kemungkinan akan tumbuh sebesar 5,1% atau 0,8 lebih banyak dibandingkan dengan perkiraan awal. Kepala ekonom Ifo, Timo Vollmershauser mengatakan bahwa revisi tersebut terutama disebabkan oleh penurunan produksi industri negara sebagai akibat dari kendala pasokan.
"Pemulihan yang kuat dari krisis virus corona, yang semula diharapkan terjadi pada musim panas, terus tertunda," kata Timo Vollmershauser. Ia juga menekankan bahwa pada bulan Agustus para ekonom memperkirakan ekonomi akan melompat ke level sebelum krisis.
Inflasi yang melonjak juga memberikan tekanan pada pemulihan pascapandemi Jerman. CPI telah mencapai puncak yang terakhir kali terlihat pada tahun 2008. Lonjakan ini terutama disebabkan oleh kenaikan harga energi. Pada saat yang sama, Asosiasi Bank Jerman memberikan prakiraan yang lebih positif.
Para bankir yakin bahwa meningkatnya permintaan eksternal terhadap barang-barang Jerman dan konsumsi yang stabil di dalam negeri akan mendorong kebangkitan ekonomi. Dengan demikian, mereka memperkirakan kenaikan PDB sebesar 2,3% pada tahun 2021 dan 4,6% pada tahun 2022. “Kami memperkirakan konsumsi swasta akan tumbuh sebesar 7 persen pada tahun 2022. Ini akan menjadi lompatan terkuat sejak reunifikasi (pada tahun 1990),” Christian Ossig, managing director BDB, mengatakan.