
Associated Press dengan mengutip Menteri Luar Negeri Elias Haua mengatakan bahwa Venezuela menolak membayarkan utang-utangnya ke Panama. Haua mengatakan bahwa 90% utang sebesar 1 miliar AS adalah penipuan.
Ia mengklaim bahwa mayoritas barang yang dibeli secara kredit dari perusahaan-perusahaan Panama telah dikirimkan ke Venezuela. Oleh karena itu, Haua berjanji akan mengajukan dakwaan kriminal.
Penolakan untuk membayarkan utang ini muncul ditengah-tengah meningkatnya ketegangan antara Karakas dan Panama. Di pertengahan minggu, Presiden Venezuela Nikolas Maduro menuduh pihak pemerintah Panama berupaya menyerbu Venezuela dan mengumumkan pemutusan hubungan. Alasan tuduhan ini adalah karena Presiden Rickardo Martinelli mendorong adanya Organisasi Negara-negara Amerika yang mensponsori mediasi dalam krisis Venezuela.
Mengomentari tindakan Maduro, Martinelli berharap putusnya hubungan Venezuela tidak akan mempengaruhi pembayaran utang ke Panama. Presiden Panama menjelaskan bahwa utang sebesar 1 miliar dolar adalah hasil dari barang-barang yang diimpor melalui zona perdagangan bebas Panama yang disebut Colon. Selain itu, ia mengatakan bahwa Caracas memiliki utang pada maskapai penerbangan Copa yang terletak di Panama. Sementara itu, administrasi Colon memperkirakan utang Venezuela mencapai 2 miliar dolar.
Menurut AFP, utang tersebut adalah hasil dari kesulitan Venezuela membayarkan barang-barang dari Panama dengan uang dolar dikarenakan Venezuela mengadopsi batas mata uang yang diperkenalkan mantan presidennya Hugo Chaves.
Ketegangan antara Panama dan Venezuela meningkat ditengah-tengah rusuhnya jalanan di Venezuela yang dimulai di awal Februari, Barikade masyarakat menuntut situasi ekonomi yang lebih baik. Secara khusus mereka mengeluhkan kekurangan barang-barang pokok dan deflasi yang berkelanjutan. Setidaknya 20 warga tewas selama bentrokan dengan pemerintah.