
Sama seperti dunia lainnya, AS tengah menghadapi dampak negatif krisis virus corona. Namun, meski permasalahan beberapa ekonomi hampir tidak mempengaruhi sentimen pasar, isu ekonomi terbesar dunia itu selalu menjadi alarm peringatan. Saat ini, AS menghadapi inflasi tertinggi yang pernah tercatat. Konsumen lokal menyalahkan inkomptensi pemerintah AS.
Khususnya, hampir dua pertiga warga Amerika mengatakan ekonomi AS berada dalam kondisi yang buruk. Sekitar setengah dari responden yang disurvei memperkirakan PDB akan berkontraksi pada tahun depan. Inflasi, sebaliknya, akan tumbuh 5,7%, menyentuh level tertinggi sejak survei tersebut dimulai pada Juni 2013. Tentu saja, karena lelah akan harga-harga yang tinggi, rakyat melampiaskan kemarahan mereka pada pemerintah. Mereka yakin bahwa semua ketidakberuntungan dapat dielakkan jika saja pemerintah AS mengambil kebijakan yang lebih bijaksana. Ternyata, sentimen konsumen berangsur melemah, begitu juga dengan prospek ekonominya. Yang terpenting, Joe Biden menyematkan harapan yang besar pada kemampuannya untuk meningkatkan ekonomi, membentuknya kembali ke kondisi sebelum pandemi.
Konsumen juga percaya bahwa pemerintahlah yang memungkinkan inflasi untuk bergerak liar. Untuk meredakan situasi, Ketua Fed Jerome Powell mengeluarkan sebuah pernyataan. "Sungguh membuat frustasi melihat permasalahan rantai pasokan tidak menjadi lebih baik - bahkan pada titik yang bisa dibilang sedikit memburuk," ia menjelaskan. "Kami melihatnya berlanjut mungkin hingga tahun depan, dan mendorong inflasi lebih lama dari yang kami perkirakan sebelumnya. "The Fed juga memantau indeks ekonomi dengan seksama karena ekspektasi inflasi dapat berimbas negatif pada aktivitas konsumen, tambahnya.
Komentar: