
Pada bulan Desember, bank sentral AS mengkonfirmasi bahwa mereka harus melakukan pengetatan moneter yang agresif. Sebelumnya, regulator mengirim pesan ke pasar global bahwa kebijakan moneter yang sangat lunak akan segera berakhir.
Pada Maret 2020, The Fed AS memulai program QE darurat skala besar. Sejak itu, mereka telah menyuntikkan $4,4 triliun ke dalam ekonomi domestik dan global. Dengan upaya tersebut, regulator bertujuan menebus kehancuran di pasar keuangan global dan dampak depresi global terburuk dalam 70 tahun terakhir. Bank sentral memulai tapering pada November 2021, mengurangi total pembelian obligasi sebesar $15 miliar per bulan, dari $120 miliar menjadi $105 miliar. Pada pertemuan kebijakan terakhir tahun 2021, Federal Reserve menawarkan hadiah Natal kepada investor. Para pembuat kebijakan memutuskan untuk menggandakan laju penarikan stimulus menjadi $30 miliar per bulan dengan tujuan menghentikan program QE pada Maret 2022.
“Dengan perkembangan vaksinasi dan dukungan kebijakan yang kuat, indikator kegiatan ekonomi dan lapangan kerja terus menguat,” Komite Pasar Terbuka Federal menyimpulkan dalam pernyataannya. “Ketidakseimbangan pasokan dan permintaan terkait pandemi dan pembukaan kembali ekonomi terus berkontribusi pada kenaikan inflasi di beberapa sektor ekonomi,” bunyi pernyataan pasca-pertemuan tersebut.
Alasan di balik keputusan ini adalah bahwa para pembuat kebijakan semakin tidak yakin bahwa lonjakan inflasi merupakan hambatan jangka pendek. Setelah pertemuan kebijakan pada bulan September, tingginya inflasi dianggap sementara, yang disebabkan oleh hambatan global, misalnya, kenaikan harga energi. Kali ini, FOMC mengubah pernyataanya, memperkirakan faktor-faktor tersebut bersifat sementara. Terakhir kali Federal Reserve mematikan mesin cetak adalah pada tahun 2014. Dengan latar belakang itu, dolar AS mengalami rally tercepat sejak 1999 dan harga minyak anjlok hampir 60%.
Komentar: