logo

FX.co ★ AS melarang minyak Rusia

AS melarang minyak Rusia

AS melarang minyak Rusia

Pemasok minyak Rusia terus kehilangan pasar. Pada awal Maret, Presiden AS Joe Biden melarang impor sumber energi dari Rusia. Tak lama setelahnya, pemerintah negara-negara Barat lainnya melakukan hal yang sama.

Gedung Putih semakin meningkatkan tekanan sanksi di tengah situasi geopolitik saat ini. Joe Biden memutuskan untuk melarang impor minyak Rusia karena itu adalah sumber utama pendapatan pemerintah Rusia. Dengan pemahaman terhadap semua konsekuensinya, pemerintah AS mengambil kebijakan tersebut, terlepas dari naiknya harga bensin.

Hasilnya, bensin AS meroket di atas rekor tertingginya ke $4,17 per gallon. Lonjakan ini awalnya disebabkan oleh kabar bahwa AS berencana untuk menjatuhkan sanksi pada minyak Rusia. Terhadap hal ini, Joe Biden meminta sektor swasta untuk tidak menaikkan harga dan berjanji akan mengendalikan para spekulan. "Ini bukanlah waktu untuk menghasilkan keuntungan secara berlebih atau mendongkel harga," presiden AS menegaskan.

“Kami melangkah maju dengan larangan ini, dengan pemahaman bahwa banyak sekutu Eropa dan mitra kami mungkin tidak dalam posisi untuk bergabung dengan kami," Biden mengatakan. Namun, sebagian negara Eropa juga ambil bagian dalam aksi boikot sumber energi Rusia. Dengan itu, Inggris telah mengurangi pembelian dan berencana menghentikan pembelian bahan bakar Rusia pada akhir tahun ini. Uni Eropa juga tengah mempertimbangkan untuk menolak secara bertahap minyak Rusia. Presiden AS itu menambahkan bahwa AS akan "terus berdiri bersama masyarakat dari berbagai negara yang mendukung rakyat Ukraina." Amerika Serikat akan berbagi tanggung jawab dalam melindungi pengungsi," ujar Biden.

*Analisis pasar yang diposting disini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran anda, namun tidak untuk memberikan instruksi untuk melakukan trading
Buka daftar artikel Buka akun trading

Komentar: