
Merujuk pada majalah Foreign Affairs, AS tertinggal dari Rusia dan China dalam hal kecerdasan buatan militer.
Sebelumnya, angkatan bersenjata AS dulunya berada di garis depan teknologi AI. Namun, Pentagon dikalahkan saingan beratnya, Rusia dan China, yang secara berkala berada di garis bawah. Departemen Pertahanan AS memimpin di bidang pengembangan AI yang membawa teknologi peperangan ke tingkat yang sama sekali baru.
Saat ini, terlepas dari kegelisahan geopolitik, Pentagon tidak mau menerapkan keahliannya untuk tantangan yang sedang berlangsung di Eropa Timur, misalnya. Sebagian besar proyek Amerika pada aplikasi AI berakhir dengan kegagalan.
Salah satu usaha yang gagal adalah proyek Angkatan Udara AS dalam merancang pesawat tanpa pilot X-45 dan X-47. Drone semacam itu dimaksudkan untuk melakukan pengintaian serta meluncurkan serangan rudal dan bom. Proyek ini dimulai pada tahun 2003. Namun, Angkatan Udara keluar dari proyek tersebut karena Pentagon memandang drone sebagai ancaman bagi program pesawat tempur F-35. Angkatan Laut AS juga mendanai proyek skala besar lainnya untuk mengembangkan X-47B, tetapi dihentikan karena alasan yang sama.
Para akar di Luar Negeri mengira bahwa angkatan bersenjata AS terlalu lama berpuas diri, sehingga AS mungkin tergelincir ke dalam barisan yang lamban. Para analis berpendapat bahwa kurangnya kemajuan dalam proyek AI AS membuat kontras yang mencolok dengan kesuksesan penelitian militer para pesaing geopolitiknya.
Jika Pentagon tidak mengintegrasikan teknologi AI ke dalam strategi dan senjata tempurnya, Rusia dan China akan memanfaatkan kelemahan ini. Kedua negara tersebut aktif menggunakan teknologi AI di angkatan bersenjata mereka. Keberhasilan mereka bisa membahayakan kekuatan militer AS.
Komentar: