
Para analis mengungkapkan pendapat yang saling berlawanan terhadap prospek jangka menengah dan panjang terkait pasar saham AS. Pendapat mereka berbeda secara signifikan namun semuanya mengandung kebenaran.
Akibat volatilitas tinggi yang terus berlanjut di Wall Street, bank-bank top dan ahli strategi saham membayangkan skenario yang berbeda bagi pasar ekuitas. Pertanyaannya adalah apakah ekonomi AS akan terjun ke jurang resesi atau bangkit dalam jangka panjang.
CEO JPMorgan Chase Jamie Dimon menilai bahwa prospek ekonomi AS tergolong pesimis. Dia juga menyampaikan keraguannya terkait kemungkinan soft landing. Sang CEO memperkirakan kemungkinan "pendaratan lunak" sekitar 10% dan kemungkinan "pendaratan keras" mendekati 20-30%. Dimon juga berasumsi bahwa akan ada kemungkinan AS terjerumus ke sesuatu yang lebih buruk akibat pengetatan agresif, krisis berkepanjangan di Ukraina, dan melonjaknya harga komoditas.
Nouriel Roubini, yang mendapat julukan Dr. Doom karena pandangan pesimistisnya terhadap ekonomi, meyakini bahwa bank sentral akan tetap mempertahankan kenaikan suku bunga untuk jangka panjang. "Suku bunga dana fed fund harus berjalan jauh melampaui 4% - 4,5% hingga 5% menurut saya - ini untuk benar-benar mendorong inflasi ke 2%," kata Roubini.
Ahli strategi mata uang di Morgan Stanley percaya bahwa harga saham AS masih melebihi nilai pasar dan pendapatan perusahaan-perusahaan. Kini, pasar saham AS diliputi oleh sentimen bearish yang kemungkinan tidak akan pulih dalam waktu dekat. Oleh karena itu, saham beberapa perusahaan berpotensi turun drastis. Situasi ekonomi saat ini, ditambah sikap hawkish The Fed, dan pendapatan perusahaan perusahaan merupakan sumber hambatan utama bagi Wall Street. Morgan Stanley memperingatkan agar tidak cepat puas dalam menanggapi penurunan terakhir pada inflasi AS. Data CPI terbaru mengungkapkan bahwa consumer price turun ke 8,5% dari 9,1% dalam level tahunan.
Sebelumnya, Michael Burry yang merupakan investor populer mengejutkan para trader oleh keputusannya untuk melikuidasi seluruh portofolio saham AS. Burry hanya memiliki saham satu perusahaan, yaitu Geo Group yang berinvestasi di penjara swasta dan situs kesehatan mental. Burry umumnya dikenal akan solusi-solusinya yang eksentrik. Dia tidak takut untuk melawan tren umum di Wall Street. Investor juga yakin inflasi di Amerika Serikat belum mencapai puncaknya. Sehingga dia tidak mengharapkan The Fed melakukan pergeseran ke sikap dovish. Menurutnya, kemungkinan terburuk belum terjadi, yaitu krisis belanja konsumen. "Anda ingat masalah savings glut? Sudah tak ada lagi. Helicopter money pada era pandemi COVID memengaruhi orang untuk membelanjakan uang lagi dan lagi, dan itu membuat mereka ketagihan. Musim dingin akan datang," cuit Burry.
Namun ada analis yang tetap optimis. Mislav Matejka yang merupakan ahli strategi investasi di JPMorgan menekankan bahwa reli di Wall Street belum berakhir. Reli akan berlangsung hingga akhir 2022 dengan latar belakang penurunan imbal hasil obligasi pemerintah jangka panjang. Ahli strategi merenungkan bahwa mungkin saham akan melonjak seandainya ada peningkatan imbal hasil Treasury 10-tahun dan 20-tahun. Selain itu, saham berrpotensi naik apabila ada laporan kuat dari Tiongkok dan ekspansi ekonomi yang stabil.
Komentar: