
Kendati ada kenyataan bahwa permintaan saham AS lebih tinggi dibandingkan di Uni Eropa atau Asia, investor Wall Street wajib bersiap menghadapi masa-masa kelam.
Sumber alasan utama dari keruntuhan yang akan datang ialah strategi kurang efektif Fed dalam memerangi inflasi. Banyak analis berpendapat bahwa ketidakmampuan bank regulator ini telah menghasilkan suku bunga kunci yang lebih tinggi. Mereka juga menuding bahwa The Fed belum sanggup mengurangi konsekuensi dari pandemi virus corona. Terutama karena bank sentral di beberapa negara telah mengatasi masalah ini sejak lama. "Sejak pandemi, bahkan perusahaan yang paling bermasalah pun masih memiliki akses pinnjaman/kredit. Apa yang disebut sebagai pembuatan kesepakatan dengan leverage meledak. M&A sering kali sangat bergantung pada pinjaman karena The Fed memberikan begitu banyak uang sehingga bank-bank selalu hampir memberikan pinjamannya," New York Post melapor dalam sebuah postingan. Sepertinya di Wall Street, semua tren naik akhirnya akan turun.
"Musim dingin yang menyakitkan kemungkinan akan terjadi di lingkup Wall Street karena pasar tetap berombak dan klien terbesar mereka mundur. Pembuatan kesepakatan tradisional seperti IPO telah mengalami penurunan secara signifikan. Di setiap rumah investasi besar, sisi manajemen diam-diam merencanakan gelombang PHK."
Komentar: