
Menurut Kyle Szostak, direktur perusahaan investasi AS, Navigator Principal Investors, tindakan The Fed memicu resesi. Para pakar yakin kenaikan suku bunga yang agresif serta salah perhitungan terkait estimasi inflasi di Amerika Serikat meningkatkan risiko penurunan kegiatan ekonomi yang berkepanjangan.
Mengingat pertumbuhan negatif selama dua kuartal berturut-turut, Szostak berpendapat bahwa ekonomi AS sudah mengalami resesi. Dalam pandangannya, ini dapat dikaitkan dengan rekor inflasi, kenaikan tajam harga energi, dan kemacetan rantai pasokan.
Langkah The Fed dapat memperdalam aksi jual di pasar investasi dan obligasi global serta melemahkan mata uang nasional negara-negara berkembang, asumsi kepala Navigator Principal Investors tersebut. Szostak yakin regulator AS membuat kesalahan ganda. Pertama, gagal menilai risiko inflasi dengan benar dan menolak menyesuaikan suku bunga. Kedua, kenaikan suku bunganya kacau dan tidak efisien.
Selain itu, kebijakan moneter The Fed saat ini berdampak buruk pada pasar ekuitas AS. Obligasi pemerintah AS mundur dan diperdagangkan pada level obligasi pasar berkembang, dengan penurunan imbal hasil sebesar $57 triliun saat pasar anjlok pada 2022.
Akibatnya, upaya bank sentral untuk menjinakkan inflasi dengan bantuan keputusan kebijakan jangka pendek menyebabkan hilangnya kepercayaan di kalangan investor, ujar Szostak.
Pada 21 September, regulator AS menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 basis poin ke kisaran 3% hingga 3,25%, level tertinggi sejak 2008. Selain itu, The Fed bermaksud untuk terus mengurangi neraca dan menaikkan suku bunga seperlunya.
Komentar: