logo

FX.co ★ AS dan Tiongkok yang di ambang jurang krisis ekonomi

AS dan Tiongkok yang di ambang jurang krisis ekonomi

AS dan Tiongkok yang di ambang jurang krisis ekonomi

Analis mengatakan bahwa AS dan Tiongkok saat ini sedang menghadapi tantangan di sektor ekonomi. Saat ini, sulit untuk memprediksi negara mana yang harus menghadapi konsekuensi paling menyakitkan apabila benar-benar terjadi krisis besar-besaran.

Prospek bagi Tiongkok tidak begitu jelas. Lima tahun lalu, moral di kalangan elit politik meningkat menjelang kongres Partai Komunis. Para menteri melaporkan data ekonomi yang optimis sebagap pemmbuktian kesuksesan besar yang membuka jalan bagi pertumbuhan ekonomi mereka yag kuat. Pada saat yang sama, pemerintahan Donald Trump mengubah nada agenda politik AS yang tidak mencakup rencana kerja sama dengan Tiongkok. Saat ini, Washington telah merevisi keadaan tersebut dan para pemimpin kedua pelaku ekonomi global terbesar ini sudah siap untuk bernegosiasi.

Seiring berjalannya waktu, pihak berwenang Tiongkok telah mengakui kesalahan mereka dan mengisyaratkan niatan untuk menyelesaikan semuanya. Pemerintah telah mengakui masalah pelik utama: gelembung utang di pasar real estat yang memicu hambatan di sektor perbankan. Sampai saat ini , jumlah investasi utang di Tiongkok stara dengan 250% dari PDB-nya. Analis memperingatkan bahwa utang besar seperti itu dapat menghancurkan sektor perbankan domestik.

Ekonom AS menganggap bahwa dengan leverage yang sangat tinggi, Tiongkok telah terjebak dalam perangkap ekonomi. Untuk keluar dari kebuntuan, pihak berwenang perlu mengambil tindakan darurat yang berpotensi memberikan pukulan serius bagi beberapa industri. Para ahli tidak dapat memberikan solusi yang efisien.

Menentang ekonom Amerika, rekan-rekan Tiongkok menunjukkan bahwa tidak ada negara yang dapat berkembang secara normal jika punya utang publik yang sangat besar seperti utang Amerika. Selain itu, analis Tiongkok mengatakan bahwa AS-lah yang harus disalahkan karena menyebarkan inflasi ke seluruh dunia. Namun, Federal Reserve tidak melihat adanya hambatan pada pengetatan agresifnya. Baru-baru ini, bank regulator ini memutuskan untuk memperluas pinjaman dan menaikkan suku bunga kreditnya sebesar 75 basis poin. Langkah ini memungkinkan arus kas keluar dari semua negara di dunia. Menurut perkiraan cepat, pemerintahan Joe Biden meminjam $1,9 triliun dan menyetujui defisit anggaran baru sebesar $4,9 triliun.

Banyak negara meminjamkan dana mereka ke AS, karena mengantisipasi bunga tinggi. Dalam konteks ini, mata uang nasional kehilangan pijakan secara paralel. Pertumbuhan ekonomi di negara berkembang melambat karena kondisi keuangan yang ketat. Inflasi tinggi telah memengaruhi semua negara di dunia. Untuk saat ini, pemerintah AS harus mengatasi sakit kepala parah. Pemerintah harus meminjam lebih banyak dan lebih banyak lagi untuk membayar jumlah utang federal sebelumnya.

Para ahli memperkirakan bahwa ekonomi AS dapat menunjukkan pertumbuhan PDB kecil pada tahun 2022 yang akan diikuti oleh kontraksi pada tahun 2023. Adapun unutuk Tiongkok, analis juga memperkirakan perlambatan output ekonomi nasional tetapi memperkirakan prospek jangka menengah dan panjang yang menjanjikan.

Para ahli sepakat bahwa dua pelaku ekonomi global terbesar ini telah terjebak di ladang ranjau yang sama. AS dapat memberikan pukulan terhadap ekonomi Tiongkok dengan memberlakukan berbagai pembatasan perdagangan. Terlepas dari bentrokan politik dan perdagangan, kedua rival ini mungkin tertarik untuk menyepakati hal yang sama.

Di balik krisis global yang memburuk, para ahli menggarisbawahi sikap predator Washington terhadap negara-negara Eropa. Analis berbagi sudut pandang bahwa AS merampas minyak dan gas Rusia dari UE, sehingga mendorong UE untuk membeli produk minyak Amerika dengan harga setinggi langit. Malapetaka ekonomi tersebut merugikan perekonomian Tiongkok karena sebelumnya Beijing menyambut baik kerja sama dengan negara-negara Uni Eropa. Namun, kegelisahan yang mendidih hampir tidak akan dapat dipadamkan dalam jangka pendek. Tiongkok telah menemukan solusi mereka. Beijing tidak hanya menjual kembali energi Rusia ke Eropa tetapi juga memasok panel surya.

Selama delapan bulan terakhir tahun 2022, ekspor panel surya dari Tiongkok ke Eropa telah menggelembung hingga 138%. Analis mengatakan ini bukan angka batasnya. Dengan keadaan seperti ini, baik AS dan Uni Eropa menyuarakan keprihatinan atas pengaruh Tiongkok yang semakin besar terhadap ekonomi global. Sebagai tindakan pencegahan, AS dan sekutu Eropanya memberlakukan tarif protektif pada barang dagangan dari Tiongkok serta beberapa pembatasan pada berbagai produk teknologi canggih mereka.

*Analisis pasar yang diposting disini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran anda, namun tidak untuk memberikan instruksi untuk melakukan trading
Buka daftar artikel Buka akun trading

Komentar: