
Kekuatan Dolar belum tentu merupakan anugerah. Seperti biasa, beberapa orang senang dengan perkembangan peristiwa itu di pasar valuta asing, sementara yang lain mengungkapkan keprihatinan atas kenaikan tajam nilai mata uang AS. Misalnya, Dana Moneter Internasional menganggap Dolar yang menguat sebagai tantangan besar dalam situasi saat ini.
Menurut IMF, ada dua alasan utama yang menjadi perhatian. Pertama, penguatan Greenback yang terus-menerus membuat barang impor lebih mahal karena sebagian besar ditagih dalam Dolar. Hal ini menambah tekanan inflasi yang sudah intens di banyak negara. Kedua, lonjakan Dolar memperketat ketentuan keuangan. Banyak perusahaan dan pemerintah memiliki tingkat utang dalam mata uang Dolar yang tinggi. Ketika nilai tukar naik, pembayaran layanan utang menjadi tidak terjangkau untuk sejumlah negara bagian.
"Dolar yang menguat hanya menambah tekanan ini, terutama untuk beberapa pasar negara berkembang dan banyak negara berpenghasilan rendah yang sudah berisiko tinggi mengalami kesulitan utang," jelas kepala ekonom IMF, Pierre-Olivier Gourinchas.
Selain itu, IMF memperbarui perkiraan pertumbuhan 2022 untuk dua ekonomi terbesar dunia, Amerika Serikat dan Tiongkok. Badan tersebut memangkas estimasi pertumbuhannya menjadi 1,6%, turun dari 2,3% yang terlihat pada bulan Juli, dan menjadi 3,2% dari 3,3% untuk Amerika Serikat dan Tiongkok. Selain itu, IMF merevisi outlook ekonominya untuk Rusia. Kini, perekonomian negara itu diperkirakan akan berkontraksi sebesar 3,4% pada tahun 2022, alih-alih perkiraan 6% sebelumnya. Tahun depan, PDB Rusia diperkirakan turun 2,3% dibandingkan dengan kontraksi 3,5% yang diperkirakan para pakar pada bulan Juli.
Komentar: