
Jelang musim dingin mendatang, International Monetary Fund (IMF) terus menakut-nakuti Eropa. Prakiraan mengecewakan diberikan oleh banyak ekonom dan lembaga. IMF jugamemperburuknya, dengan mengatakan bahwa musim dingin mendatang pasti akan gelap dan sulit.
Prakiraan yang dijelaskan dalam laporan terbaru ini disiapkan oleh Pierre-Olivier Gourinchas, Penasihat Ekonomi dan Direktur Riset. Menurut asumsinya, "musim dingin 2022 akan menjadi tantangan bagi Eropa, tetapi musim dingin 2023 kemungkinan akan lebih buruk." Jelas bahwa krisis energi, yang sangat menguras anggaran UE, merupakan ancaman utama bagi kawasan ini pada periode musim dingin. Terlebih, analis ini memperingatkan situasi mungkin memburuk di tahun berikutnya. Dia juga menambahkan bahwa “krisis energi, terutama di Eropa, bukan kejutan sementara.” Pierre-Olivier Gourinchas yakin musim dingin akan panjang dan kebal terhadap sebagian besar tindakan. Prakiraan serupa disuarakan oleh Presiden Turki, Recep Tayyip Erdoğan. "Eropa siap mengalami musim dingin yang sulit di tengah semakin parahnya krisis energi dengan kelangkaan pasokan", ujarnya.
Eropa menghadapi kesulitan di sektor energi setelah memberlakukan berbagai sanksi terhadap Rusia. Salah satu paketnya termasuk pembatasan pasokan energi Rusia. Meskipun pemerintah setempat berhasil mengurangi ketergantungan pada gas Rusia, ada konsekuensi yang mengerikan. Kini Eropa harus menghadapi salah satu musim dingin terparah dalam beberapa dekade terakhir.
Komentar: