
Sesuai laporan Bloomberg Economics, angka inflasi global saat ini berada di puncak senilai 9,8% dari tahun ke tahun. Namun, angka ini masih berpotensi turun ke 9,5% pada akhir tahun 2022 dan 5,3% pada paruh kedua tahun 2023. Bloomberg Economics melaporkan bahwa inflasi global sudah mendekati puncaknya. Meskipun demikian, penurunan bertahap dari posisi tertinggi multi-tahun mencerminkan kekhawatiran bank sentral utama tentang harga konsumen. Para ahli mencatat bahwa masalah ini mungkin bakal merugikan perekonomian dunia tahun depan. Pekan lalu, pasar mencerna laporan inflasi AS dan UE. Saat ini, nilai indeks sedang menurun. Data harga produsen dan ekspektasi inflasi di kalangan investor agak optimis. Selain itu, kenaikan suku bunga mulai memperbaiki ekonomi global. Pada saat yang sama, para ahli memperingatkan tentang pertempuran melawan inflasi yang sedang berlangsung ini mungkin memerlukan banyak waktu. Harga konsumen tidak mungkin stabil bahkan jika inflasi menyusut secara signifikan. "Bahkan ketika menurun, hasil harga konsumen akan tetap jauh di atas zona nyaman bagi bank sentral dan akan memerlukan pengetatan lebih lanjut bahkan ketika risiko resesi membayangi," dikatakan oleh Tom Orlik, kepala ekonom Bloomberg. Sementara itu, Bloomberg Economics menambahkan bahwa risiko inflasi global tetap menghantui. Kemacetan rantai pasokan mungkin berperluang muncul dan harga komoditas dapat naik lagi jika Tiongkok membuka kembali ekonominya setelah melonggarkan kebijakan nol-COVID.