
Musim dingin di Eropa baru saja berakhir namun para analis telah membuat prediksi menyedihkan baru terkait musim dingin selanjutnya. Setelah menyempatkan bulan demi bulan mengkhawatirkan penyusutan persediaan dan melonjaknya harga, para pelaku pasar bernafas lega. Namun, analis yakin masih terlalu dini untuk optimis tentang masa depan.
Uni Eropa berhasil menghindari krisis energi berat pada musim dingin ini berkat pasokan bahan bakar yang cukup dan anomali cuaca hangat tak normal. Dengan demikian, ramalan suram sebelumnya tak jadi kenyataan. Namun, para "prophet" atau nabi kesuraman dan malapetaka belum mau menyerah. Terdapat lebih banyak musim dingin lainnya yang menanti di depan, yang berarti risikonya tentu masih ada.
Analis membuat prediksi berdasarkan laporan dari para ekonom di International Energy Agency (IEA). Pada Konferensi Keamanan Munich, Dr. Fatih Birol yang merupakan Direktur Eksekutif IEA memperingatkan Eropa agar tidak berpuas diri menjelang musim dingin mendatang. Dia membuat penilaian yang baik atas upaya UE dalam mengurangi krisis energi musim dingin ini. Musim dingin yang lebih berat di tahun 2024. Dr. Birol juga meminta Eropa untuk menyampaikan "rencana induk industri baru melalui kebijakan berani dan ambisius."
Sebelumnya, Komisi Eropa meramalkan akan terjadi kekurangan dan kenaikan harga gas musim dingin mendatang. Selain itu, pada tahun 2024, Eropa kemungkinan akan menghadapi inflasi yang lebih tinggi akibat "tekanan harga kemungkinan akan lebih luas dan lebih kuat dari yang diharapkan."
Komentar: