
Menurut Mario Draghi, mantan ketua Bank Sentral Eropa (ECB), ekonomi Uni Eropa kemungkinan akan menghadapi resesi pada akhir tahun 2023. Namun demikian, politisi tersebut menegaskan bahwa resesi di Eropa hampir pasti terjadi pada akhir tahun 2023. Ia percaya bahwa tanda-tanda yang jelas mengenai resesi akan muncul pada dua kuartal pertama tahun 2024, suatu periode yang akan lebih baik menunjukkan kesehatan ekonomi kawasan tersebut. Draghi menyatakan bahwa untuk memperbaiki situasi tersebut, UE perlu memperkuat integrasinya. "Entah Eropa bertindak bersama dan menjadi sebuah persatuan yang lebih dalam, sebuah persatuan yang mampu mengekspresikan kebijakan luar negeri dan kebijakan pertahanan, di samping semua kebijakan ekonomi. Negara-negara Uni Eropa tidak akan bertahan selain menjadi pasar tunggal," ujar mantan presiden ECB tersebut. Draghi mencatat bahwa selama 20 tahun terakhir, ekonomi Eropa secara bertahap kehilangan keunggulan kompetitifnya. Tidak hanya tertinggal dari AS, tetapi juga Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok. Draghi percaya bahwa ekonomi zona euro "telah kehilangan kehadirannya dalam berbagai bidang teknologi." Bahkan, para ekonom telah memperingatkan bahwa Uni Eropa mungkin akan jatuh ke dalam resesi pada Agustus 2023. Para analis percaya bahwa situasi ekonomi saat ini di negara-negara Eropa tampak lebih berbahaya daripada di AS atau Tiongkok. Tahun depan, Inggris dan negara-negara Eropa terkemuka lainnya mungkin akan menghadapi resesi.