
Shaun Rein, pendiri dan direktur pelaksana China Market Research Group (CMR) menunjukkan alasan mengapa perekonomian Tiongkok dapat tergelincir ke dalam deflasi. Hebatnya, penyebbabnya adalah penurunan harga daging babi! Pakar tersebut memperingatkan bahwa harga daging babi mungkin turun drastis.
Bukankah luar biasa bahwa babi menjadi ancaman terhadap perekonomian terbesar kedua di dunia tersebut? Kondisi terkait tren kenaikan harga daging babi sangat jelas. Memang benar, daging babi adalah salah satu bahan penting dalam masakan Tiongkok sehingga permintaannya tinggi. Mengapa perekonomian Tiongkok tidak mampu menghadapi tantangan penurunan harga daging babi? Jadi, mari kita perhatikan statistiknya.
Pada November 2023, harga daging babi ritel di Tiongkok anjlok sebesar 31,8% dibandingkan tahun lalu. Shaun Rein khawatir dinamika seperti itu akan membuka jalan bagi deflasi dalam perekonomian Tiongkok.
Analis tersebut berpendapat bahwa penyebab jatuhnya harga ritel secara tajam adalah melimpahnya daging babi di pasar domestik. Harga daging babi merupakan bagian penting dalam indeks harga konsumen Tiongkok. Dalam konteks ini, anjloknya harga daging babi memperburuk risiko deflasi yang tinggi. Menurut Shaun Rein, dalam jangka menengah, barang dagangan dan jasa Tiongkok lainnya juga dapat terkena dampak deflasi.
Pakar tersebut juga mendeteksi penyebab lain terjadinya deflasi di Tiongkok: penurunan harga real estate dan penurunan harga barang-barang kebutuhan pokok. Namun, Shaun Rein menjelaskan bahwa anjloknya harga daging babi memicu tren penurunan. Analis tersebut menyimpulkan bahwa faktor-faktor yang disebutkan di atas adalah katalis tambahan dari ancaman deflasi.
Komentar: