
Menurut laporan dari Business Insider, upaya India untuk memperoleh pengakuan internasional atas mata uangnya telah menghadapi hambatan signifikan. Sayangnya, Komunitas global masih ragu-ragu untuk menggunakan rupee sebagai alat tukar internasional yang setara dengan mata uang lainnya. Situasi ini dipandang tidak adil oleh pihak berwenang India, yang mempertanyakan mengapa rupee dianggap lebih rendah dibandingkan mata uang lainnya. Tantangan saat ini terletak pada menemukan cara untuk mencapai pengakuan tersebut, tentunya merupakan teka-teki yang rumit.
Namun para analis skeptis terhadap keberhasilan upaya tersebut. Selama beberapa tahun terakhir, tidak ada satu pun transaksi minyak global yang dilakukan dengan rupee, dan tren ini berlanjut hingga tahun keuangan 2023. Sebagian besar negara masih lebih memilih menggunakan dolar untuk transaksi internasional.
Pihak berwenang India telah mencoba membujuk negara-negara lain untuk menerima rupee sebagai pembayaran minyak, namun upaya mereka tidak membuahkan hasil positif. Banyak mitra dagang India tidak siap menghadapi perubahan seperti itu. Sementara itu, pemasok bahan mentah enggan menerima rupee karena tingginya risiko mata uang, seperti yang disoroti oleh para ahli.
Kementerian Perminyakan di India melaporkan bahwa dari tahun 2022 hingga 2023, impor hidrokarbon gagal berdenominasi dalam mata uang rupee, meskipun ada upaya berulang kali oleh otoritas India untuk menginternasionalisasikan mata uang nasional mereka. Inisiatif ini dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.
Sebaliknya, negara-negara seperti Tiongkok dan Rusia secara aktif mempromosikan penggunaan mata uang nasional mereka secara global. Selanjutnya, anggota BRICS sedang mendiskusikan pengembangan dan pengenalan mata uang blok baru.
Komentar: