
Tiongkok dan Arab Saudi memperkuat hubungan perdagangan dan politik. Kerjasama yang saling menguntungkan antara kedua negara ini telah berkembang dalam beberapa waktu terakhir. Sambutan dengan karpet ungu kerajaan untuk kunjungan Xi Jinping, Presiden Tiongkok, yang sangat dinanti-nantikan ke Riyadh adalah bukti langsung dari semakin dalamnya hubungan antar negara.
Sebelumnya, Arab Saudi sudah lama dipandang sebagai sekutu Amerika Serikat di Timur Tengah. Namun, Tiongkok berhasil memikat kerajaan tersebut. Menurut para analis, Mohammed bin Salman, Putra Mahkota Saudi, mendukung posisi Tiongkok dalam banyak masalah.
Salah satu faktor yang berkontribusi memperdalam hubungan antara kedua negara ini adalah upaya mereka untuk meninggalkan mata uang AS. Arab Saudi dan Tiongkok telah menantang dominasi greenback secara global melalui pembayaran transaksi minyak dan gas dalam mata uang yuan. Hebatnya, Saudi telah memperdagangkan minyak secara eksklusif dalam dolar sejak tahun 1974. Namun, pada bulan November 2022, negara-negara tersebut menandatangani perjanjian pertukaran mata uang lokal senilai 50 miliar yuan. Menurut dokumen tersebut, Arab Saudi memperoleh akses bebas terhadap pasokan mata uang Tiongkok dengan nilai tukar yang ditetapkan, dan sebaliknya untuk Beijing dan riyal Saudi.
Kesepakatan ini telah menjadi titik balik yang signifikan bagi kedua negara. Menurut para pakar, jika mereka terus melakukan transaksi minyak dan gas dengan yuan, perjanjian tersebut akan melampaui sistem keuangan Barat dan membantu Arab Saudi dan Tiongkok lepas dari sistem keuangan tersebut. Hal ini akan menjadi sinyal bagi komunitas dunia bahwa Saudi siap menggunakan yuan. Sebelumnya, Rusia, mitra dagang minyak terbesar Tiongkok, juga melakukan hal serupa.
Namun, situasinya masih jauh dari stabil. Dunia keuangan global tidak terburu-buru untuk meninggalkan penggunaan dolar. Selain itu, sebagian besar utang publik dan swasta di seluruh dunia menggunakan mata uang Amerika. Greenback menyumbang hampir 50% pembayaran global, sedangkan yuan menyumbang kurang dari 4%. Mata uang AS dapat dikonversi secara bebas, tidak demikian halnya dengan mata uang Tiongkok.
Meski demikian, jumlah transaksi dengan yuan Tiongkok terus meningkat. Pada bulan September 2023, mata uang ini mengambil alih posisi euro sebagai mata uang kedua yang paling banyak digunakan dalam perdagangan global.
Komentar: