
Pihak berwenang Tiongkok sekali lagi menunjukkan komitmen mereka untuk mendorong inisiatif-inisiatif baru. Mereka memutuskan untuk menurunkan rasio cadangan wajib (RRR) perbankan sebesar 50 basis poin. Para analis percaya bahwa langkah ini mungkin bermanfaat bagi perekonomian nasional, dan mencatat bahwa para pejabat Tiongkok telah mengambil keputusan yang tepat. Pada hari Rabu, 24 Januari, People's Bank of China (PBOC) meluncurkan pengurangan RRR sebesar 50 basis poin untuk perbankan. Langkah ini akan mulai berlaku pada tanggal 5 Februari. Tolok ukur untuk lembaga kredit besar ini adalah 10,5%. Namun, rata-rata sektor perbankan Tiongkok tidak melebihi 7,4%. Tahun lalu, People's Bank of China menurunkan RRR sebanyak dua kali sebesar 25 basis poin setiap waktu. Pan Gongsheng, Gubernur PBOC, menekankan bahwa inisiatif ini akan menyediakan modal jangka panjang sebesar 1 triliun yuan ($139,8 miliar). Otoritas Tiongkok bertujuan untuk menstabilkan perekonomian nasional dengan mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus mengurangi ketergantungan pada dana pinjaman di sektor real estat, yang saat ini sedang mengalami penurunan. Laporan sebelumnya mengindikasikan bahwa bank-bank milik negara terbesar di Tiongkok telah memasuki pasar valuta asing untuk meningkatkan nilai tukar yuan dan nilai saham perusahaan nasional. Penurunan RRR, yang merupakan persentase dana yang dikumpulkan dari nasabah yang disimpan oleh bank umum di rekening regulator, dirancang untuk mendukung sektor riil perekonomian. Indikator ini berfungsi sebagai salah satu instrumen kebijakan moneter suatu negara yang mengatur jumlah uang beredar dalam perekonomian. RRR secara khusus diturunkan ketika otoritas pengatur memperluas aktivitas pinjaman.