
Bank sentral Turki sedang berupaya untuk mengendalikan inflasi yang membandel. Level inflasi telah naik hingga dua digit. Hal ini tentu memerlukan tindakan tegas. Gubernur bank sentral yang baru telah berjanji untuk menahan tekanan inflasi.
Gubernur bank sentral yang baru diangkat, Fatih Karahan, menyatakan bahwa ia akan terus berjuang melawan lonjakan inflasi. Pemimpin baru ini menggarisbawahi prioritas regulator untuk memastikan stabilitas harga konsumen. Menurut Fatih Karahan, kebijakan moneter hawkish yang sedang berlangsung akan terus dilakukan hingga inflasi dapat turun ke level targetnya. “Kami tidak akan membiarkan prospek inflasi turun,” ujar pejabat tersebut.
Sebelumnya, Fatih Karahan menjabat sebagai Wakil Gubernur Bank Sentral Turki. Ia juga bekerja di Federal Reserve Bank of New York dan mengajar di Columbia University dan New York University. Dua tahun lalu, Fatih Karahan bekerja sebagai ekonom senior di Amazon.
Inflasi di Turki melonjak ke level 64,77% pada Desember 2023 dari tahun lalu. CPI tahunan tercatat sebesar 61,87% pada bulan November. Hebatnya, level inflasi resmi sangat berbeda dengan perkiraan jumlah penduduk di Turki. Masyarakat yakin bahwa angka tahunan melonjak hingga 96%. Angka ini 1,5 kali lebih tinggi dibandingkan kenaikan inflasi resmi.
Pada hari Jumat, 2 Februari, Hafize Gaye Erkan, kepala regulator Turki, meminta Presiden Recep Tayyip Erdogan untuk mengizinkan pengunduran dirinya. Gubernur bank sentral, Hafize Gaye Erkan, mengambil keputusan tegas tersebut akibat kekhawatiran akan ancaman terhadap keluarganya. Selain itu, “kampanye pembunuhan reputasi belakangan ini diorganisir untuk melawan saya,” ujarnya di platform media sosial X saat mengundurkan diri.
Komentar: