Pada hari Senin, kontrak berjangka minyak mengalami kenaikan, naik pada sesi ketiga berturut-turut. Kenaikan harga tersebut disebabkan oleh pasokan minyak mentah global yang makin ketat.
Prospek permintaan yang lebih tinggi dan dolar yang lemah juga ikut berkontribusi terhadap kenaikan harga minyak.
Kontrak berjangka Minyak Mentah West Texas Intermediate untuk bulan Oktober ditutup lebih tinggi sebesar $0,71 atau sekitar 0,8% pada $91,48 per barel. Penutupan tertinggi pada tahun ini.
Kontrak berjangka minyak Brent naik sebesar $0,47 atau sekitar 0,5% pada $94,40 per barel beberapa saat yang lalu.
Dengan Arab Saudi dan Rusia memutuskan pada awal bulan ini untuk memperpanjang pemotongan produksi sukarela mereka hingga akhir tahun, harga minyak terus mengalami kenaikan.
Data ekonomi terbaru yang menunjukkan terjadinya peningkatan produksi industri di Tiongkok yang telah meningkatkan harapan tentang prospek permintaan dari ekonomi terbesar kedua di dunia.
Produksi industri mengalami kenaikan sebesar 4,5% pada bulan Agustus dibandingkan dengan pembacaan bulan sebelumnya yang berada di angka 3,7%. Pasar telah memperkirakan bahwa lonjakan akan menjadi 3,9%. Begitu juga penjualan ritel pada bulan Agustus yang melonjak menjadi 4,6% dari pembacaan sebelumnya sebesar 2,5% dan ekspektasi sebesar 3%.
Langkah-langkah stimulus yang sudah diumumkan oleh pemerintah Tiongkok serta harapan yang lebih besar mendukung prospek permintaan positif untuk minyak mentah.
Pekan lalu, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) mengeluarkan perkiraan permintaan yang solid dan menunjuk pada potensi defisit pasokan tahun 2023 jika pemotongan produksi terus berlanjut.