Rupiah Indonesia mengalami penurunan ke sekitar IDR 16.670 terhadap dolar AS pada hari Kamis, setelah sebelumnya meningkat ke sekitar IDR 16.630. Depresiasi ini dipengaruhi oleh aliran keluar modal asing yang kecil pada awal Desember dan suasana hati-hati menjelang keputusan kebijakan moneter yang akan datang. Bank Indonesia telah mengisyaratkan kemungkinan pemotongan suku bunga tambahan untuk mendorong kemajuan ekonomi, setelah jeda berturut-turut pada bulan Oktober dan November, dan pengurangan total sebelumnya sebesar 150 basis poin selama setahun terakhir. Pendekatan dovish ini telah memicu kekhawatiran tentang meningkatnya risiko inflasi, yang diperburuk oleh gangguan logistik akibat bencana alam di Sumatra pada akhir November. Meskipun demikian, dampak negatif pada rupiah diredam oleh pertumbuhan penjualan ritel yang kuat pada bulan Oktober dan peningkatan kepercayaan konsumen pada bulan November. Selain itu, cadangan devisa mengalami kenaikan bulanan kedua berturut-turut pada bulan November, mencapai level tertinggi sejak Agustus. Di tingkat internasional, indeks dolar tetap mendekati level terendah tujuh minggu setelah Federal Reserve AS melakukan pemotongan suku bunga ketiga sebesar 25 basis poin tahun ini, sambil mengindikasikan hanya satu pemotongan lagi yang diharapkan pada tahun 2026.
FX.co ★ Risiko Suku Bunga dan Bencana Alam Membebani Rupiah
Risiko Suku Bunga dan Bencana Alam Membebani Rupiah
*Analisis pasar yang diposting disini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran anda, namun tidak untuk memberikan instruksi untuk melakukan trading