Futures nikel mempertahankan level sekitar $18,300 per ton, mendekati level tertinggi baru-baru ini setelah mencapai puncak lebih dari 19 bulan di sekitar $18,700 pada 14 Januari. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh kekhawatiran yang berkelanjutan tentang pasokan terbatas dari Indonesia. Para pedagang memperhatikan dengan seksama perkiraan kuota bijih Indonesia untuk tahun 2026, yang diproyeksikan antara 250-260 juta ton, jauh di bawah permintaan smelter domestik dan target tahun lalu sebesar 379 juta ton. Menambah ketidakpastian pasar, persetujuan untuk rencana produksi tahunan penambang (RKAB) belum diselesaikan. Ketersediaan bijih yang terbatas dapat menghambat produksi nikel olahan, sehingga mendukung harga meskipun ada penurunan baru-baru ini. Selain itu, minat investor pada aset nyata didorong oleh peningkatan permintaan dari produsen baja tahan karat China dan produsen baterai kendaraan listrik, yang mempertahankan harga nikel yang kuat. Pada saat yang sama, upaya untuk mendiversifikasi pasokan semakin menjadi fokus. Secara khusus, Proyek Crawford dari Canada Nickel di Ontario telah dipercepat di bawah kerangka One Project, One Process, dengan tujuan produksi awal pada akhir 2028. Perkembangan ini menunjukkan potensi alternatif jangka panjang untuk produksi nikel Indonesia.
FX.co ★ Futures Nikel Bertahan Dekat Puncak
Futures Nikel Bertahan Dekat Puncak
*Analisis pasar yang diposting disini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran anda, namun tidak untuk memberikan instruksi untuk melakukan trading