Futures nikel naik tipis menjadi sekitar $17,200 per ton, membuat pemulihan kecil setelah mencapai titik terendah dalam satu bulan pada awal Februari. Pergerakan ini didorong oleh kekhawatiran tentang potensi tantangan pasokan di Indonesia. Laporan menunjukkan bahwa peleburan Tiongkok di Sulawesi Tengah belum menyerahkan laporan aktivitas investasi yang diperlukan, sehingga pihak berwenang tidak dapat memantau produksi dengan memadai. Mengingat status Indonesia sebagai produsen nikel terbesar di dunia, kelalaian regulasi ini memicu kekhawatiran di kalangan pedagang mengenai potensi gangguan ekspor. Sementara itu, DMCI Mining Corporation dari Filipina melaporkan produksi bijih nikel yang mencapai rekor 2,0 juta ton metrik basah (WMT) pada tahun 2025, dengan tingkat pengiriman yang kuat dan harga patokan naik menjadi $45,7/WMT. Perusahaan tersebut telah menetapkan target 3 juta WMT untuk tahun 2026, mencerminkan kondisi pasokan yang terus kuat. Pasokan yang andal dari Filipina ini memperkuat sentimen pasar, memastikan bahwa permintaan di Tiongkok dapat terpenuhi dengan cukup.
FX.co ★ Futures Nikel Naik karena Risiko di Indonesia
Futures Nikel Naik karena Risiko di Indonesia
*Analisis pasar yang diposting disini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran anda, namun tidak untuk memberikan instruksi untuk melakukan trading