Kontrak berjangka baja tulangan (steel rebar) naik menembus CNY 3.060 per ton pada akhir Februari, bangkit dari level terendah beberapa bulan seiring aktivitas ekonomi di China pulih setelah libur panjang Tahun Baru Imlek dan ekspektasi bahwa pabrik akan meningkatkan produksi.
Kendati demikian, analis memperkirakan permintaan baja China akan melemah pada paruh pertama tahun ini, yang dapat membatasi kekuatan dan daya tahan pemulihan harga. Pelaku sektor juga mencermati potensi dampak dari putusan tarif terbaru Mahkamah Agung AS, di tengah kekhawatiran bahwa hal itu dapat membuka peluang bagi tambahan langkah proteksionis setelah kinerja ekspor baja China yang kuat tahun lalu.
Meski begitu, China diperkirakan akan menghadapi tarif rata-rata yang lebih rendah atas ekspor produk berbasis logamnya sebagai konsekuensi dari putusan pengadilan tersebut, yang berpotensi mendukung pertumbuhan ekspor lebih lanjut. Dari sisi kebijakan, People’s Bank of China mempertahankan suku bunga pinjaman acuannya tidak berubah untuk bulan kesembilan berturut-turut, hanya memberikan dukungan kebijakan yang terbatas bagi pasar baja domestik.