Kontrak berjangka saham AS melemah pada hari Senin seiring konflik yang meningkat di Timur Tengah mengguncang pasar keuangan. Pada akhir pekan, AS dan Israel melancarkan serangan militer ke Iran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi negara tersebut, Ayatollah Ali Khamenei, dan praktis menutup Selat Hormuz. Teheran membalas dengan menyerang aset-aset AS di seluruh kawasan, termasuk di Uni Emirat Arab, Bahrain, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, Yordania, Irak, dan Suriah.
Guncangan geopolitik ini datang di atas latar belakang pasar saham yang sudah rapuh. Wall Street menutup pekan lalu di bawah tekanan, dengan kekhawatiran investor yang meningkat bahwa adopsi cepat artificial intelligence dapat melemahkan permintaan terhadap penyedia perangkat lunak tradisional. Pada hari Jumat, Dow Jones Industrial Average turun 1,05%, S&P 500 melemah 0,43% dan Nasdaq Composite terkoreksi 0,92%.
Menambah ketidakpastian, data inflasi AS dirilis lebih tinggi dari perkiraan, mengindikasikan bahwa perusahaan-perusahaan meneruskan kenaikan biaya terkait tarif kepada konsumen. Tren tersebut semakin mengaburkan prospek pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve.