Surplus neraca perdagangan Indonesia menyempit tajam menjadi USD 0,95 miliar pada Januari 2026, turun dari USD 3,49 miliar pada bulan yang sama tahun sebelumnya dan jauh di bawah ekspektasi pasar sebesar USD 2,76 miliar. Ini merupakan surplus terkecil sejak April 2025, meskipun baru-baru ini Indonesia dan US menandatangani perjanjian dagang timbal balik, di mana Washington sepakat menahan tarif atas ekspor Indonesia di level 19%, turun dari usulan awal 32% pada tahun sebelumnya.
Impor melonjak 18,21% secara tahunan menjadi USD 21,2 miliar, dipimpin oleh impor nonmigas yang naik 16,71%, serta impor minyak dan gas yang melesat 27,52%. Sebaliknya, pertumbuhan ekspor relatif tertahan, hanya naik tipis 3,39% menjadi USD 22,16 miliar. Ekspor nonmigas meningkat 4,38%, ditopang oleh pengiriman lemak dan minyak hewani maupun nabati yang kuat, serta mesin dan peralatan listrik. Namun, kenaikan ini sebagian tertahan oleh penurunan tajam 15,62% pada ekspor minyak dan gas, yang terbebani oleh turunnya volume minyak mentah dan gas alam.