Kontrak berjangka heating oil AS turun sekitar 5% ke $3,43 per galon, terkoreksi dari level tertinggi tiga tahun, setelah Presiden Donald Trump memberi sinyal rencana untuk menangani lonjakan harga energi dalam jangka pendek. Langkah-langkah yang mungkin diambil termasuk memanfaatkan US Strategic Petroleum Reserve, melonggarkan persyaratan fuel-blending, dan mengizinkan Departemen Keuangan memperdagangkan kontrak berjangka minyak.
Meski terkoreksi, harga heating oil masih berada di jalur untuk membukukan kenaikan mingguan lebih dari 30%—yang terbesar sejak awal 2022—di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang hampir menghentikan pengiriman melalui Selat Hormuz. Konflik AS-Israel dengan Iran, yang kini memasuki hari ketujuh, belum menunjukkan tanda-tanda mereda, dengan Iran menyerang kilang minyak Bahrain menggunakan rudal dan drone. Israel telah melakukan serangan udara ke Teheran, dan AS menangguhkan operasi di kedutaannya di Kuwait.
Walaupun lalu lintas kapal tanker melalui selat tersebut anjlok sekitar 70%, data EIA menunjukkan peningkatan persediaan distilat sebesar 0,4 juta barel, berlawanan dengan ekspektasi penurunan sebesar 2,6 juta barel.