logo

FX.co ★ Kontrak Berjangka Nikel Perpanjang Pelemahan di Tengah Arus Risk-Off

Kontrak Berjangka Nikel Perpanjang Pelemahan di Tengah Arus Risk-Off

Kontrak berjangka nikel turun di bawah $17.200 per ton pada bulan Maret, memperpanjang pelemahan terbaru dan mengikuti koreksi yang lebih luas di logam industri, seiring memanasnya ketegangan di Timur Tengah yang memperkuat sentimen risk-off di pasar manufaktur. Lonjakan harga Brent crude dan penguatan dolar AS semakin menekan komoditas industri, mendorong investor mengurangi eksposur terhadap logam siklikal.

Dari sisi pasokan, smelter Indonesia, yang sekitar 75% kebutuhan sulfurnya dipasok dari Timur Tengah, menghadapi kenaikan biaya input dan risiko pemangkasan produksi jika gangguan pengiriman berlanjut, yang berpotensi mengetatkan ketersediaan bahan baku dan membebani operasional. Dari sisi permintaan, pabrik baja China telah menaikkan harga tender untuk NPI berkadar tinggi, mengindikasikan permintaan yang tetap kuat dan dapat membantu membatasi penurunan lanjutan harga nikel.

Pada saat yang sama, kuota produksi bijih Indonesia tahun 2026 sebesar 260–270 juta wet metric tons akan membatasi pemanfaatan penuh kapasitas RKEF dan HPAL negara tersebut yang mencapai 2,7 juta ton, dengan tingkat utilisasi pengolahan diperkirakan turun menjadi 70–75% tahun ini.

*Analisis pasar yang diposting disini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran anda, namun tidak untuk memberikan instruksi untuk melakukan trading
Buka daftar artikel Buka akun trading