Kontrak berjangka kakao naik menembus $3.250 per ton, level tertinggi sejak 18 Februari, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu gelombang short covering. Pelaku pasar semakin khawatir bahwa konflik yang melibatkan Iran dan potensi gangguan di Selat Hormuz dapat mendorong kenaikan biaya pengapalan dan membatasi pengiriman kakao.
Terlepas dari kekhawatiran tersebut, fundamental pasar masih mencerminkan ekspektasi pasokan yang melimpah dan permintaan yang lemah. Kondisi cuaca yang kondusif telah meningkatkan prospek produksi di dua negara produsen kakao utama Afrika Barat, Ivory Coast dan Ghana, sementara pelemahan permintaan global berkontribusi pada peningkatan stok. Menyusul penurunan harga internasional, kedua negara tersebut baru-baru ini menurunkan harga pembelian di tingkat petani (farm-gate prices) guna mendorong peningkatan penjualan.