Kontrak berjangka jagung melemah ke sekitar $4,33 per gantang, terkoreksi dari level tertinggi pekan lalu di kisaran $4,47, seiring tekanan dari penurunan harga energi. Harga minyak mentah turun tajam di tengah optimisme bahwa ketegangan dengan Iran dapat mereda lebih cepat dari perkiraan, menyusul pernyataan Presiden AS Trump yang mengindikasikan bahwa operasi militer mungkin mulai dikurangi dan bahwa berbagai langkah sedang dipertimbangkan untuk menahan biaya energi.
Harga gandum dan biji-bijian sering mengikuti pergerakan harga minyak karena jagung dan komoditas pertanian lain merupakan bahan baku utama untuk produksi biofuel, dan harga energi yang lebih tinggi juga mendorong kenaikan biaya input seperti pupuk dan transportasi.
Sentimen pasar juga tertahan menjelang rilis laporan WASDE dari US Department of Agriculture, yang berpotensi mengubah estimasi untuk stok jagung AS, permintaan ekspor, dan pasokan global. Permintaan ekspor masih solid: pengiriman untuk tahun pemasaran 2025–26 telah mencapai sekitar 1,62 miliar gantang, sekitar 42% di atas laju pada periode yang sama tahun sebelumnya. Meski demikian, ketidakpastian yang berkelanjutan terkait proyeksi produksi dan kondisi cuaca mendorong banyak investor untuk memangkas posisi mereka.