Kontrak berjangka minyak sawit Malaysia bergerak di sekitar MYR 4.450 per ton pada hari Rabu, bangkit kembali dari penurunan tajam pada sesi sebelumnya seiring pelemahan ringgit dan penguatan harga soyoil di Chicago yang menopang sentimen pasar. Minat beli juga muncul setelah harga futures menyentuh level terendah dalam 4½ bulan, menarik masuk para pemburu harga murah.
Prospek ekspor turut memberikan dukungan tambahan. Pengapalan produk minyak sawit untuk periode 1–10 Maret diperkirakan melonjak 37,9%–45,3% dibandingkan periode yang sama di Februari, didorong oleh kuatnya permintaan menjelang Ramadan dan Idulfitri.
Data bulanan dari Malaysian Palm Oil Board menunjukkan bahwa persediaan bulan Februari turun 3,9% ke posisi terendah dalam empat bulan di 2,70 juta ton, sementara produksi crude palm oil merosot 18,6% menjadi 1,28 juta ton.
Selain itu, pembeli India meningkatkan aktivitas pembelian di tengah kekhawatiran bahwa pasokan soyoil dan minyak bunga matahari dapat terganggu akibat ketegangan di Timur Tengah.
Namun, momentum kenaikan tetap terbatas karena Indonesia—produsen terbesar di dunia—mempertimbangkan untuk mempercepat penerapan mandat biodiesel B50, langkah yang berpotensi memperketat ketersediaan untuk ekspor.