Kontrak berjangka heating oil diperdagangkan di atas $3,80 per galon setelah reli dua hari, bertahan di dekat level tertinggi sejak Juni 2022. Kenaikan ini terjadi setelah sinyal dari Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup. Khamenei juga menyatakan bahwa Iran dapat membuka front tambahan jika serangan AS dan Israel berlanjut, sementara laporan bahwa Iran telah mulai menanam ranjau di selat tersebut semakin meningkatkan risiko pengiriman.
Pada saat yang sama, Presiden Donald Trump mengambil sikap menantang, menegaskan bahwa mencegah Iran memperoleh senjata nuklir dan mengekang pengaruh regionalnya lebih penting daripada kekhawatiran soal harga minyak. Sejak konflik dimulai, kapal tanker tidak dapat melakukan kegiatan muat dari Teluk, mengganggu sekitar 20% pasokan minyak global. International Energy Agency menggambarkannya sebagai gangguan terbesar terhadap produksi minyak global yang pernah tercatat, dan upaya internasional terbaru untuk menahan biaya energi sejauh ini belum banyak berhasil memperlambat lonjakan harga. Heating oil tetap berada di jalur untuk membukukan kenaikan mingguan kedua berturut-turut.