Kontrak berjangka minyak mentah Brent kembali menguat menembus level $105 per barel setelah muncul laporan serangan terhadap ladang gas South Pars milik Iran, yang berbatasan langsung dengan Qatar. Televisi pemerintah Iran menyatakan bahwa serangan udara Amerika Serikat dan Israel menargetkan South Pars serta fasilitas petrokimia di Asaluyeh, yang merupakan serangan pertama yang diketahui terhadap infrastruktur hulu energi Iran dalam konflik yang sedang berlangsung. South Pars mencapai rekor produksi harian 730 juta meter kubik pada tahun 2025.
Semalam, serangan Iran terhadap Israel dan negara-negara Teluk berlanjut, seiring tekad Teheran untuk membalas pembunuhan kepala keamanan Ali Larijani. Di pihak lain, Israel menyatakan bahwa menteri intelijen Iran, Esmaeil Khatib, telah tewas. Presiden Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat dapat mengakhiri perang dengan Iran “dalam waktu dekat.”
Dalam perkembangan terpisah, Irak berencana melanjutkan kembali ekspor minyak mentah melalui pipa menuju pelabuhan Ceyhan di Turki, meskipun volume pengiriman yang dipulihkan hanya akan menjadi sebagian kecil dari tingkat produksi sebelum perang. Pada saat yang sama, data dari American Petroleum Institute (API) menunjukkan bahwa persediaan minyak mentah AS naik 6,56 juta barel pada pekan lalu, jauh melampaui perkiraan pasar.