Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia melemah 71 poin, atau 1%, ke level 7.091 pada awal perdagangan Jumat, memperpanjang penurunan sesi sebelumnya setelah kejatuhan semalam di Wall Street. Sentimen memburuk ketika Presiden AS Trump meningkatkan tekanan terhadap Iran, memperingatkan adanya aksi militer berkelanjutan dan bahkan kemungkinan penguasaan atas sumber daya minyak negara tersebut.
Indeks acuan domestik berada di jalur penurunan mingguan untuk kelima kalinya secara beruntun, saat ini turun 0,2% secara mingguan, karena investor tetap berhati-hati menjelang rilis data inflasi Maret dan data perdagangan Februari yang akan datang.
Dari sisi korporasi, maskapai penerbangan domestik telah mengajukan persetujuan untuk kenaikan 15% pada fuel surcharge dan batas tarif tiket pesawat sebagai respons terhadap lonjakan biaya, yang mengindikasikan mulai munculnya tekanan inflasi dorongan biaya (cost-push inflation). Namun, tekanan jual di pasar sebagian tertahan oleh kabar adanya tambahan injeksi likuiditas sebesar IDR 100 triliun ke bank-bank BUMN, sehingga total dukungan mencapai IDR 300 triliun dalam upaya mempertahankan pertumbuhan kredit.
Penurunan terjadi secara luas di berbagai sektor, dipimpin oleh infrastruktur, transportasi, dan keuangan. Beberapa saham yang tercatat melemah signifikan antara lain Sumber Alfaria Trijaya (-4,1%), Adaro Andalan Indonesia (-2,5%), Indosat (-2,3%), dan Bank Central Asia (-2,0%).