Kontrak berjangka minyak sawit Malaysia menguat untuk sesi kedua berturut-turut pada hari Jumat, diperdagangkan mendekati MYR 4.600 per ton, didukung oleh kenaikan harga minyak nabati di bursa Dalian dan pelemahan ringgit. Sentimen semakin terangkat oleh kuatnya permintaan ekspor, dengan lembaga survei kargo melaporkan bahwa pengiriman untuk periode 1–25 Maret melonjak 38–51% dibandingkan Februari, menandakan aktivitas pembelian pasca-Idulfitri yang solid.
Harga minyak mentah yang lebih tinggi di tengah ketegangan yang terus berlanjut di Timur Tengah juga memberikan dukungan, memperkuat prospek permintaan untuk biofuel berbasis sawit. Meski demikian, kontrak acuan diperkirakan akan menutup pekan ini sedikit lebih rendah, turun sekitar 0,2%, karena sebagian kenaikan sebelumnya tergerus.
Tekanan koreksi antara lain dipicu oleh ekspektasi melemahnya permintaan dari India, dengan impor Maret diperkirakan sebesar 680.000 ton, dibandingkan 847.689 ton pada Februari. Di Indonesia, otoritas berupaya mempercepat penerapan B50 biodiesel secara nasional sekaligus mempertimbangkan kenaikan bea keluar untuk April.
Pada saat yang sama, pelaku pasar tetap berhati-hati menjelang rilis data PMI China untuk Maret yang dijadwalkan pekan depan. China, sebagai salah satu pembeli utama minyak sawit, mencatat perlambatan aktivitas pabrik pada Februari akibat libur panjang Tahun Baru Imlek, sehingga menambah ketidakpastian terhadap prospek permintaan dalam jangka pendek.