Indeks dolar menguat menuju 100,5 pada hari Senin, naik untuk sesi kelima berturut-turut dan kembali ke level yang terakhir terlihat pada Mei 2025, seiring konflik dengan Iran memasuki minggu kelima tanpa tanda-tanda mereda. Investor tetap fokus pada implikasi terhadap pertumbuhan ekonomi dan prospek kebijakan moneter.
Harga minyak terus naik, menyentuh level tertinggi baru yang belum terlihat sejak 2022. Hal ini memperkuat ekspektasi bahwa biaya energi yang lebih tinggi dapat menekan aktivitas ekonomi dan membatasi ruang gerak Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga. Akibatnya, probabilitas tersirat kenaikan suku bunga The Fed pada 2026 turun menjadi sekitar 20%, dari sekitar 35% pada akhir pekan lalu.
Perhatian pasar juga mulai bergeser ke kalender ekonomi yang padat, dengan rilis data utama termasuk ISM Manufacturing PMI dan laporan ketenagakerjaan bulanan, yang keduanya diperkirakan akan memberikan wawasan lebih lanjut mengenai kekuatan fundamental ekonomi AS. Dolar AS diperdagangkan cenderung menguat terhadap pound, yen, dan euro.