Indeks saham Indonesia turun 37 poin, atau 0,6%, ke level 6.135 pada perdagangan Jumat siang, berbalik arah dari penguatan di awal sesi dan memperpanjang penurunan ke sesi ketiga berturut-turut. Sentimen melemah setelah MSCI menyoroti kekhawatiran terkait transparansi pasar dan indikasi aktivitas perdagangan terkoordinasi, hanya beberapa hari sebelum kemungkinan penurunan peringkat ke status pasar frontier yang, menurut Reuters, dapat memicu arus keluar modal sekitar USD 13 miliar.
Pelaku pasar juga semakin mewaspadai dampak biaya pinjaman yang lebih tinggi terhadap belanja rumah tangga, menyusul kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia sebesar total 100 bps sejak Mei yang ditujukan untuk menopang nilai rupiah dan menahan arus keluar modal.
Meski terjadi koreksi terbaru, indeks acuan tersebut masih berada di jalur untuk membukukan kenaikan mingguan sekitar 2%—kenaikan mingguan kedua secara beruntun—didukung oleh optimisme terhadap kemungkinan tercapainya kesepakatan antara AS dan Iran, meskipun kekhawatiran akan sikap Federal Reserve yang lebih hawkish tetap membayangi.
Penurunan terjadi secara luas di sektor industri, keuangan, properti, dan bahan baku. Beberapa saham yang melemah tajam antara lain Telkom Indonesia (-6,8%), Sarana Menara Nusantara (-6,5%), Barito Pacific (-4,2%), dan Bank Mandiri (-3,4%).