Nikel bergerak di kisaran sekitar $17.400 per ton, level terendah dalam lebih dari dua bulan, seiring investor melanjutkan aksi ambil untung setelah reli yang sempat membawa harga menembus $19.600 pada awal Mei. Sentimen melemah lebih jauh ketika posisi berbasis momentum mulai dilepas.
Tekanan turun tambahan berasal dari lemahnya permintaan di China, di mana transaksi nickel salt tetap lesu dan produksi baja nirkarat hanya menunjukkan perbaikan yang tipis. Persediaan di bursa yang masih tinggi memperkuat kekhawatiran tentang kelebihan pasokan dalam jangka pendek.
Dari sisi suplai, ketidakpastian di Indonesia membantu sedikit mengimbangi sentimen bearish tersebut. Kuota penambangan yang lebih ketat, peningkatan pengawasan fiskal dan regulasi, serta perubahan pada harga patokan menimbulkan keraguan terhadap laju pertumbuhan produksi di masa mendatang. Pada saat yang sama, laporan bahwa investor yang didukung China tengah menjajaki proyek nikel di luar Indonesia menegaskan potensi pergeseran aliran modal dan risiko kendala suplai jangka panjang.