Kontrak berjangka jagung menguat hingga sekitar $4,40 per bushel, mendekati level tertinggi satu bulan, setelah USDA memangkas proyeksi stok akhir jagung AS lebih besar dari yang diperkirakan pasar dalam laporan WASDE edisi Juli, yang mengindikasikan prospek pasokan yang semakin ketat. Lembaga tersebut memangkas stok akhir 2026/27 sebesar 170 juta bushel menjadi 1,8 miliar, karena permintaan ekspor yang lebih kuat lebih dari sekadar mengimbangi kenaikan produksi yang moderat, sementara proyeksi hasil rata‑rata nasional dibiarkan tidak berubah di 183 bushel per acre.
USDA juga mempertahankan proyeksi penggunaan jagung untuk produksi etanol pada level 5,6 miliar bushel untuk tahun 2026/27, menyoroti permintaan yang stabil dari sektor biofuel. Pada saat yang sama, pelaku pasar mencermati kondisi cuaca di wilayah‑wilayah utama penghasil jagung di AS, dengan cuaca panas setempat dan curah hujan yang tidak merata diperkirakan akan memengaruhi prospek hasil panen selama periode penyerbukan yang krusial.
Secara global, gelombang panas yang berkepanjangan dan kekeringan semakin menggerus potensi hasil di Prancis, di mana USDA kini memperkirakan panen jagung terkecil dalam lebih dari tiga dekade, sehingga memperkuat kekhawatiran mengenai ketatnya pasokan global.