Nikel diperdagangkan di sekitar $16.830 per ton, bangkit dari level terendah enam bulan di dekat $16.300 seiring meredanya kekhawatiran pasokan. Indonesia menegaskan kembali bahwa pemerintah tidak akan menyetujui kenaikan kuota produksi nikel secara luas, dan hanya akan memberikan tambahan kuota bagi smelter yang menghadapi kekurangan bahan baku. Sikap ini memperkuat ekspektasi bahwa pasokan bijih akan tetap relatif ketat, karena pemerintah berupaya mencegah kelebihan pasokan dan menstabilkan pasar nikel global sambil hanya mengizinkan pertumbuhan produksi yang terarah.
Pada saat yang sama, meningkatnya kembali ketegangan di Timur Tengah menjaga harga minyak tetap tinggi dan mempertahankan kekhawatiran atas ketersediaan sulfur—bahan baku utama dalam sektor pengolahan nikel Indonesia—yang turut memberikan dukungan tambahan bagi harga. Namun, potensi kenaikan tetap terbatas oleh lemahnya permintaan fisik: perdagangan nickel pig iron berkadar tinggi masih lesu, aktivitas restocking di hilir tetap terbatas, dan harga bijih nikel terus melemah di tengah tingginya persediaan dan pasokan yang terus berlanjut.