Rupiah Indonesia melemah ke kisaran IDR 18.080 per dolar AS pada Rabu, mundur setelah sempat menguat menembus bawah IDR 18.000 pada sesi sebelumnya. Mata uang ini tertekan seiring berlanjutnya kenaikan harga minyak mentah yang kembali memicu kekhawatiran atas tagihan impor energi Indonesia, mengingat statusnya sebagai negara pengimpor minyak netto.
Pelaku pasar juga mengambil sikap hati-hati menjelang rapat kebijakan Bank Indonesia pekan depan, setelah bank sentral menaikkan suku bunga secara kumulatif sebesar 100 bps antara Mei dan Juni untuk menopang rupiah. Pembuat kebijakan diperkirakan akan mempertahankan nada waspada, dengan cadangan devisa yang masih berada di dekat level terendah dalam dua tahun meski mencatat sedikit peningkatan pada Juni.
Pada saat yang sama, kekhawatiran mengenai melemahnya aktivitas domestik pada kuartal kedua meningkat di tengah kinerja manufaktur yang lemah dan melambatnya belanja konsumen, sebagian akibat kenaikan harga bahan bakar non-subsidi.
Kendati demikian, pelemahan rupiah terbatas karena indeks dolar AS memperpanjang penurunannya setelah data inflasi AS yang lebih lunak meredam ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve dalam waktu dekat. Dukungan tambahan datang dari keputusan S&P untuk mempertahankan peringkat kredit sovereign Indonesia pada level investment grade.