Dolar Selandia Baru melemah ke $0,560, bergerak di dekat level terendah sejak November 2025, seiring pelemahan ekonomi domestik dan melebarya perbedaan suku bunga dengan ekonomi-ekonomi utama menekan mata uang tersebut. Kiwi berada di bawah tekanan yang lebih besar dibandingkan sejumlah mata uang lain karena pemulihan ekonomi Selandia Baru masih rapuh. Meskipun Reserve Bank telah menaikkan suku bunga pada dua pertemuan kebijakan yang digelar tahun ini, official cash rate masih tertinggal dari sejumlah bank sentral luar negeri, sehingga mengurangi daya tarik aset dalam denominasi dolar Selandia Baru bagi investor internasional.
Pada saat yang sama, meningkatnya ketegangan di Timur Tengah menambah tekanan pada mata uang negara-negara yang rentan terhadap kenaikan biaya energi. Ketidakpastian politik menjelang pemilihan umum Selandia Baru pada bulan November semakin membayangi prospek ekonomi, sehingga menambah sentimen negatif terhadap kiwi.