
Dalam kampanye di Iowa, Presiden Donald Trump mengatakan ia bisa membuat dollar naik atau turun seperti yo‑yo. Mengomentari pelemahan tajam mata uang tersebut, ia bersikeras bahwa semuanya baik‑baik saja dengan the dollar dan berharap mata uang itu sekadar menemukan level yang wajar. Namun pernyataannya berbuah sebaliknya. Setelah pidatonya, Bloomberg dollar index turun lagi 1,2%, dan mata uang AS melemah terhadap seluruh mata uang utama.
Para analis menyebut beberapa faktor yang mendasari pelemahan dolar. Pasar memprice in pemangkasan suku bunga Federal Reserve lebih lanjut, ketidakpastian yang meningkat atas kebijakan tarif, serta ketidakstabilan kebijakan presiden — termasuk ancaman terhadap independensi the Fed.
Faktor‑faktor ini merusak kepercayaan investor. Membengkaknya defisit anggaran menambah kekhawatiran. Win Tin, kepala ekonom di Bank of Nassau, mengatakan banyak pihak dalam pemerintahan Trump mendukung dolar yang lebih lemah untuk meningkatkan daya saing ekspor, tetapi memperingatkan bahwa kebijakan semacam itu merupakan risiko terukur yang bisa berputar di luar kendali.
Para trader merespons cepat terhadap komentar presiden. Short bets terhadap the US dollar mencapai level rekor. Imbal hasil untuk opsi short‑date yang mendapat keuntungan dari kelemahan mata uang yang naik ke titik tertinggi sejak 2011, tahun terawal yang datanya dapat dibandingkan oleh Bloomberg. Mengingat penurunan tajam ini, beberapa pakar kini memproyeksikan dolar bisa jatuh ke level terendah dalam empat tahun, mencerminkan perubahan nyata dalam ekspektasi investor terhadap arah jangka panjang mata uang tersebut.