
Harga minyak global anjlok tajam setelah kesepakatan gencatan senjata sementara antara Iran dan Amerika Serikat dengan pasar mencataqt penurunan sekitar 16-19% selama sesi trading. Langkah ini terjadi menyusul pernyataan resmi Presiden Donald Trump bahwa Washington siap untuk mematuhi gencatan senjata selama dua pekan.
Penurunan tajam ini mendorong harga minyak mentah acuan di bawah ambang batas simbolis $100 per barel. Harga Brent berjangka anjlok sekitar 16% menjadi sekitar $93 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) AS kehilangan sekitar 19%, tetap berada di dekat harga $92 per barel. Para trader menyebutkan ekspektasi pemulihan pasokan yang stabil dengan cepat sebagai pendorong utama pembalikan tren ini.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Aragachi, mengatakan bahwa jalur aman melalui Selat Hormuz akan dipulihkan dalam waktu dekat. Ia mengatakan kepada wartawan bahwa kapal koemrsial dan tanker akan dijamin saat transit selama dua pekan ke depan. Jaminan ini menghilangkan risiko pasokan fisik langsung yang telah melonjak selama fase aktif konflik.
Investor menanggapi de-eskalasi dengan menutup posisi yang telah dibuka untuk menangkap premi geopolitik. Para pelaku pasar mengatakan bahwa pelepasan taruhan yang cepat berkontribusi pada skala aksi jual.
Normalisasi rute pengiriman mengubah prospek bagi eksportir minyak mentah Rusia. Blokade efektif sebelumnya di selat tersebut telah mendukung harga Urals yang lebih tinggi dengan mempertahankan permintaan yang kuat untuk pasokan alternatif. Aliran yang kembali lancar melalui Hormuz seharusnya membantu menstabilkan pasar energi global dn mengurangi tekanan inflasi.