
Total pengeluaran AS untuk kampanye militer melawan Iran sejak akhir Februari 2026 telah melampaui sekitar $29 miliar. Pendanaaan ini mencakup biaya-biaya yang terkait dengan pelaksanaan serangan, logistik, serta pemeliharaan blokade menyeluruh terhadap pelabuhan-pelabuhan laut Iran.
Dari total tersebut, $25 miliar telah dialokasikan untuk menutupi biaya operasional selama dua bulan pertama konfrontasi bersenjata berlangsung. Sejak saat itu, pengeluaran anggaran telah meningkat sebesar tambahan $4 miliar yang mencerminkan intensitas pemanfaatan sumber daya teknis dan personal yang tetap tinggi di kawasan Timur Tengah. Menurut Jules Hurst III, Pejabat Keuangan Utama Pentagon, biaya konflik AS dengan Iran saat ini diprediksi mencapai sekitar $29 miliar. Para pembuat undang-undang AS memprediksi bahwa total pengeluaran dapat melonjak hingga $50 miliar jika Washington perlu mengajukan dana tambahan darurat kepada Kongres.
Perlu dicatat bahwa Amerika Serikat dan Israel telah melancarkan sebuah kampanye militer yang bertujuan untuk melumpuhkan situs-situs peluncuran drone, landasan udara lapangan, serta sistem pertahanan udara statis milik Iran. Konsekuensi langsung dari serangan-serangan ini adalah pemblokiran Selat Hormuz oleh Iran, sebuah jalur arteri yang sangat vital bagi transportasi energi global. Sebagai tanggapan, Washington memulai blokade maritim terhadap pelabuhan-pelabuhan terbesar republik tersebut yang secara efektif melumpuhkan kegiatan ekspor Teheran. Konsultasi diplomatik yang sedang berlangsung belum membuahkan hasil yang signifikan dan adanya pertentangan mendasar yang terus berlanjut di antara kedua belah pihak meningkatkan kemungkinan terjadinya eskalasi batu dalam konflik tersebut pada pertengahan tahun 2026.
Komentar: